Basa-Basi

Sebuah cerita, ada orang jawa yang sedang tertimpa bencana. Si jago merah melahap rumahnya. Ia butuh ember untuk mengambil air. Karena tidak punya ember, orang jawa tersebut pergi ke rumah tetangganya, bermaksud meminjam ember. Namanya orang jawa, di rumah tetangganya itu ia berbasa-basi dulu, mengutarakan maksud kedatangannya. Sedangkan rumahnya tengah kebakaran besar. Sudah dirasa sopan, ia baru meminjam ember. Tentu saja, rumahnya telah hangus ketika ia pulang.

Pada cerita lain, ada seorang pegawai pabrik rumahan. Ia gelisah lantaran anaknya yang masih kecil di rawat di rumah sakit dan harus segera melunasi biaya pengobatan. Hal ini sangat mendesak dan ia harus segera mendapatkan biaya untuk itu. Langkah terakhir yang bisa ia lakukan adalah meminjam uang ke majikanya. Akhirnya, dengan tekad kuat ia beranikan diri meminjam uang ke majikannya. Ketika bertemu majikannya itu, ia langsung menodong minta uang tanpa ada maksud dan keterangan yang jelas. Hanya kata penting dan mendesak yang ia utarakan. Tentu saja si majikan tidak memberikan, malah ia terancam dipecat.

Banyak orang yang lupa akan pentingnya basa-basi. Menganggap basa-basi adalah sesuatu yang merugikan dan hanya menghabiskan waktu. Basa-basi seperti halnya kata pengantar dalam sebuah buku. Kalau kita membaca buku, ada bagian kata pengantar dan terkadang kata sambutan. Hal ini adalah basa-basi penulis yang dapat membantu si pembaca untuk memahami tulisan di buku itu secara menyeluruh.

Mengapa harus ada prolog dalam novel? Tidak lain untuk mengatarkan pembaca memahami alur yang terkandung dalam sebuah cerita. Basa-basi adalah alur yang sedikit demi sedikit mencapai klimaks, yaitu maksud tujuan utama. Dalam pidato pun, bagian isi yang merupakan bagian terpenting juga ditaruh tidak sebelum kata pembukaan.

Basa-basi merupakan nilai kesopanan tersendiri. Dengan ini, kita akan mendapatkan lebih dari apa yang kita maksudkan. Orang jawa adalah orang yang dinilai memiliki nilai kesopanan tinggi. Banyak sekali basa-basi yang terkandung dalam pembicaraannya. Seperti seorang lelaki yang akan melamar lawan jenisnya, dipastikan ia akan menyiapkan sejumlah basi-basi sampai dirasa adalah waktu yang tepat untuk mengutarakan maksud utamanya.

Pada cerita ke dua kita bisa menilai, seberapa pentingnya basi-basi. Bayangkan saja, sebuah buku tanpa kata pengantar dan langsung pada bab pembahasan. Atau sebuah novel tanpa prolog dan langsung pada klimaksnya. Dan sebuah pidato tanpa pembukaan. Akan ada banyak kejanggalan yang kita rasakan.

Tentu saja, basa-basi itu harus ditempatkan pada tempat yang tepat. Jangan seperti orang jawa pada cerita pertama. Tetapi juga jangan terlalu banyak berbasa-basi, hal itu hanya akan membuang waktu sia-sia. Orang lain juga mempunyai waktu bukan untuk mendengarkan basa-basi yang tidak ada manfaatnya.

(M.FIH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: