Baiknya, Beri Maaf

buletin

*buletin Al-murtadlo edisi 468, oleh : M.B. Alkavi maaf4 Ibnu Abas r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Ada sepuluh golongan dari umatku yang tidak akan masuk surga, kecuali bagi yang bertobat. Mereka itu adalah al-qalla’, al-jayyuf, al-qattat, ad-daibub, ad-dayyus, shahibul arthabah, shahibul qubah, al-’utul, az-zanim, dan al-’aq li walidaih. Kemudian Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah al-’utul itu?” Beliau menjawab, “Orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf atas dosa yang dilakukannya, dan tidak mau menerima alasan orang lain.”   Pada chapter sebelumnya telah kami sampaikan perihal tentang meminta ma’af, maka pada chapter  kedua ini akan kami paparkan perihal memberi ma’af pada orang yang telah berbuat salah. Supaya terjalinlah  hubungan antara manusia yang ideal tanpa permusuhan , tanpa perseteruan dan tanpa segala hal buruk yang timbul akibat perbutan manusia yang tidak baik. Tentu sudah menjadi  dambaan bagi semua kalangan ummat islam apabila bisa tinggal di tempat segala kenikmatan pada kehidupannya di akhirat nanti. Maka sudah menjadi barang pasti  jika  manusia beriman berlomba-lomba untuk memperolehnya.  Tetapi bagaimana bila keinginan tersebut terhambat oleh sesuatu hal  yang dianggap remeh oleh sebagian orang.  Memang mema’afkan adalah sesuatu hal yang sangat berat sekali untuk kita lakukan, terlebih lagi bila rasa sakit yang ditimbulkan dari kesalahan yang kita terima sangatlah membekas dan menimbulkan rasa sakit yang begitu mendalam.Setelah anda memikirkan tentang rasa sakit, alangkah baiknya anda berfikir  dalam keadaan  kepala dingin, dan  mulailah berfikir bahwa  Seharusnya yang menjadi kepastian dalam diri kita adalah apapun yang terjadi, termasuk perilaku orang lain yang menyakitkan hati kita, terjadi karena Allâh ‘Azza wa Jalla mengizinkannya. Tidak mungkin suatu peristiwa terjadi kalau Allâh tidak mengizinkannya. Seekor nyamuk tak akan menyentuh kulit apalagi sampai menghisap darah kita kalau Allâh tidak mengizinkan. Tidak mungkin ada pukulan  mendarat di muka kita kalau Allâh tidak mengizinkan. Kalau Allâh menghendaki atau mengizinkan suatu kerugian menimpa kita, pasti Allâh punya maksud. Maksud utamanya adalah menguji kita dengan cara memberi cobaan kepada kita. Bila punya cara berpikir ilahiyah sebagaimana di atas, maka kita akan sampai kepada pemahaman “ Allâh sedang menguji saya”. Maka sudah tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak mema’afkan orang lain yang telah  berbuat salah kepada kita. Sebagaimana Allah memberi kabar kepada Nabi , dalam Al-Qur’an, surat Al- Maidah ayat 13:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيْثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوْبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُوْنَ اْلكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهِ وَنَسُوْا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوْا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيْلاً مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ (١٣)

“(tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat). Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Mâ’idah [5]: 13). Pada ayat di atas, Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW. Untuk mema’afkan  kaum meskipun telah  begitu banyak melakukan kesalahan. Penting untuk kita ketahui, Memaafkan adalah proses untuk menghentikan perasaan dendam, jengkel, atau marah karena merasa disakiti atau dizhalimi. Pemaafan (forgiveness) sendiri, menurut ahli psikologi Robert D. Enright, adalah kesediaan seseorang untuk meninggalkan kemarahan, penilaian negatif, dan perilaku acuh-tidak-acuh terhadap orang lain yang telah menyakitinya secara tidak adil. Melengkapi pandangan Enright di atas, Thompson mendefinisikan pemaafan sebagai upaya untuk menempatkan peristiwa pelanggaran yang dirasakan sedemikian hingga respon seseorang terhadap pelaku, peristiwa, dan akibat dari peristiwa yang dialami diubah dari negatif menjadi netral atau positif. Tetapi bagaimana jika orang yang telah menyakiti hati kita entah disengaja atau tidak, tetap mengulangi perbutannya, maka solusi yang paling tepat dan yang paling bijak adalah bersabar, bukankah kita telah di peringatkan oleh dengan Allah SWT firmanNya. Yang berbunyi:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعونَ(156)

”Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu, dengan ketakutan, kelaparan, kehilangan harta dan jiwa. Namun, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang yang apabila ditimpa musibah mengucapkan ‘sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) (QS al-Baqarah [2]: 155-156). Memaafkan memang tidak mudah. Butuh proses dan perjuangan untuk melakukannya. Adanya kebaikan bagi diri kita dan bagi orang lain akan menjadikan memaafkan menjadi sesuatu yang mungkin dilakukan. Seorang ahli psikologi dari Universitas Stanford California, Frederic Luskin, pernah melakukan eksperimen memaafkan pada sejumlah orang. Hasil penelitian Luskin menunjukkan bahwa memaafkan akan menjadikan seseorang:  Jauh lebih tenang kehidupannya. Mereka juga  Tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung, dan dapat membina hubungan lebih baik dengan sesama. Dan yang pasti, mereka  Semakin jarang mengalami konflik dengan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: