An-Nur II, dari Pondok Salaf hingga Pesantren Wisata

Kru “Sapa Santri” bersama pengasuh dan pengurus Pondok Pesantren Wisata An-Nur II.

“Innallaha jamil, yuhibbu jamal, Allah itu indah dan mencintai keindahan” (HR Muslim)

 

Udara yang sejuk dan keindahan taman An-Nur II adalah suasana khas pesantren wisata ini. Adanya rumah pohon yang dibangun di area Billah, replika rumah nabi, flaying fox, dan lokasi panahan merupakan tempat-tempat yang harus dikunjungi. Tak heran, keindahan An-Nur II telah menarik perhatian banyak masyarakat untuk mengunjunginya.

 

Salah satu yang tertarik untuk mengenal Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” adalah pemirsa “Kompas TV”. Melalui acara “Sapa Santri”, Ag. Zahrul Azhar atau lebih dikenal Gus Hans, akan mengenalkan beberapa program unggulan An-Nur II.

 

Tidak semua pesantren yang menjadi sasaran Gus Hans untuk dimasukkan dalam acaranya. Meski targetnya pesantren di seluruh Indonesia, Gus Hans hanya meliput pesantren-pesantren salaf dan kholaf atau integrasi dari keduanya saja. Karena pesantren inilah yang tetap menjaga persatuan NKRI. “Yang penting pondok NU”, beliau berujar.

 

Memang tidak ada pesantren yang terbaik di dunia ini, tetapi setiap pesantren pasti punya ciri khas dan kelebihannya sendiri-sendiri. Dan yang menjadi sorotan untuk diperkenalkan kepada khalayak umum adalah program unggulan yang ada di An-Nur II. Seperti pengajian kitab kuning, lalaran, percakapan bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta macam-macam tempat kepariwisataan di An-Nur II, yaitu rumah pohon, lapangan memanah dan flaying fox.

Budi, salah satu kru kameraman sedang mengambil beberapa shoot gambar kegiatan santri.

Pesantren sebagai Destinasi Halal Tourism

 

Pada kedatangannya hari Kamis, 05 April 2018 itu, melalui acara “Sapa Santri”, Gus Hans ingin menginformasikan tentang sistem pendidikan pesantren ke masyarakat luas. “Dengan ini kita bisa menginformasikan bahwa pesantren itu bukan tempat pendidikan yang kuno, melainkan pesantren adalah tempat yang mengasyikkan”, ujar putra seorang kiai asal Jombang ini.

 

Beliau menambahkan bahwa pesantren adalah suatu lembaga pendidikan yang juga mendukung program halal tourism. Yaitu salah satu sektor pariwisata yang mengajarkan nilai-nilai keislaman. Seperti keramahan, nilai gotong royong, toleransi dan Ahklak Karimah santri lah yang menjadi nilai penting pada halal tourism itu. “Intinya, Halal tourism itu dapat menggambarkan Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin”, tutur beliau.

 

Tujuannya, agar masyarakat mengetahui lebih detail tentang sistem pendidikan di pesantren. Dengan begitu, stigma-stigma negatif masyarakat terhadap pesantren dapat disangkal. “Supaya masyarakat tahu bahwa pesantren itu tidak seperti yang mereka anggap”, ujar Gus Hans.

 

Untuk para santri sendiri, supaya mereka lebih percaya diri untuk terus mengenyam pendidikannya di pesantren. karena di pesantren akan tumbuh generasi-generasi Islam penerus bangsa, dimana mereka lah yang akan mewujudkan Islam sebagai agama yang benar-benar rahmatan lil ‘alamin.

Yasin, kru juru kamera yang mengambil gambar santri ro’an.

Pesantren Harus Berfikir Maju!

 

Meski pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia, serta tetap mempertahankan budaya asli kepesantrenan, bukan berarti pesantren itu kuno. Dengan tanpa meninggalkan kebudayaannya, pesantren terus meningkatkan kualitas pendidikan dengan mengikuti perubahan zaman. “Perubahan zaman itu tidak dapat dihindari, melainkan harus dihadapi dengan bijak”, nasihat Gus Hans.

 

Hal itu dibuktikan dengan banyaknya pesantren yang mempunyai strategi dalam perkembangannya. Seperti adanya pondok pesantren modern yang tetap mempertahankan nilai kesalafannya, juga seperti An-Nur II dengan identitas pesantren wisatanya. “Pesantren sekarang harus berinovasi dengan packing (pengemasan) yang berbeda, mau bagaimanapun bentuknya yang terpenting masih menjaga nilai kesalafan itu” tambah beliau. Hal ini didasari oleh kaidah Almuhafadlotul ‘Ala Qodimis Sholih, Wal Akhdu Bil Jadiidil Ashlah,  yaitu mempertahankan budaya yang baik dan menyaring budaya yang lebih efektif. Seperti harapan beliau, pesantren harus berfikir maju!

 

Pewarta : Izzul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: